Home Site Map Berita Artikel Kurs Alamat KPP   
 Peraturan
 Buku
 Tarif Pajak
 Appendix
 Time Test BUT
 Web Links
 Live Consultation
 Pertanyaan Pajak
 Forum
 Polling
Apakah Pelayanan Dirjen Pajak Sudah Baik
 Sudah
 Belum
 Belum sama sekali
 
  
 Online Service

Support1  

Support2  





Laris Manis Bisnis Parsel Imlek

Jakarta - Bisnis parsel Imlek laris manis pada perayaan Tahun Baru Imlek 2561 yang jatuh pada 14 Februari 2010 ini.

Dari hasil pengamatan detikFinance di sekitar Pasar Glodok, Jalan Pancoran, Jakarta, Sabtu (6/2/2010), para pedagang parsel Imlek sudah banyak beredar.

Menurut salah seorang penjual parsel bernama Yustin, pemesan parsel tahun ini meningkat 30-40%. Padahal, harga per parselnya pun juga meningkat sekitar 10% atau Rp 50 ribu.

"Untuk parsel konsumennya meningkat walaupun jujur, konsumen tahun ini lebih suka menawar. Namun karena sudah tradisi, tetapi mungkin budget-nya yang dikurangi," ujarnya.

Kisaran harga parsel, jelas Yustin, sekitar Rp 150 ribu sampai Rp 1,5 juta dengan perpaduan antara makanan dan ornamen Imlek. Pemesan parsel kebanyakan dari perusahaan walaupun pada H-7 seperti hari ini, pemesan lebih banyak dari kalangan pribadi.

"Biasanya kalau H-7, lagi ramai-ramainya tapi dari pribadi saja untuk teman dan keluarga," jelasnya.

Yustin menyatakan produk-produk makanan yang digunakannya dalam setiap rangkaian parsel berasal dari dalam negeri sehingga adanya ASEAN-China Free Trade Agreement (AC-FTA) tidak berpengaruh terhadap harga-harga parsel yang dijualnya. Namun, lanjutnya, ada produk-produk yang diimpor langsung dari China, seperti minuman dan manisan khas Imlek.

"Kita ngeri juga pakai produk luar, takut kadaluarsa, tapi kalau seperti minuman anggur dan manisan Imlek, kita impor dari China karena adanya hanya menjelang Imlek," ungkapnya.

Lain toko, lain pula rezekinya. Mochtar yang berjualan parsel tak jauh dari Yustin malahan merasa penjualannya tahun ini menurun sekitar 30% dengan harga yang meningkat sampai 20%.

"Padahal saya sudah ambil untung sedikit, sekitar Rp 25 ribu per parselnya, tapi sepertinya daya beli masyarakat sedang menurun," ujarnya.

Menurut Mochtar, adanya AC-FTA tidak memberikan pengaruh terhadap menurunnya harga produk China terutama makanan yang menjadi produk utama dalam bisnis parselnya.

"Kita pakai produk lokal tapi harga produk luar sama saja. Mungkin karena importir dipersulit juga. Setiap pintu tetap kasih duit. Jadi diduga tetap ada 'tarif'-nya," ujar Mochtar. (nia/dnl)

detikfinance.com

<<Kembali
 
Login Member


Updated: 8 September 2010
Mata uangSatuanJualBeli
Sumber : Bank BI



 
Perjanjian Pemakai |  Petunjuk Pencarian
 
Copyright © 2006 situspajak.com. All Rights Reserved
Best view with Mozilla Firefox,1024 x 768